Setahun di bandung dan saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, ya Jayapura saya akan kembali ke tanah kelahiran saya. Sebelum kembali masih terasa sesak di dada karena mengingat hasil belajar saya setahun di STT Telkom masih jauh dari memuaskan, " yang penting tidak DO aja .." kata ayah saya. Yasudahlah, coba lagi semester depan, begitu kata - kata pamungkas mahasiswa. Seminggu sebelum balik ibu saya sempat datang ke Bandung, berhubung dia juga ada sebuah kegiatan di bandung, sekalian juga "membesuk" putra bungsunya ini. Dan waktu keberangkatan pun tiba, saya beruntung mendapatkan tiket pesawat yang cukup murah untuk waktu liburan seperti ini. Waktu keberangkatannya tanggal 16 Juni 2012 pukul 22.30 WIB yang ditempuh dari Bandara Soeta selama kurang lebih 6 jam menuju bandara sentani jayapura. tanpa transit. Sedangkan tumpangan saya dari bandung menuju jakarta diputuskan menggunakan Cipaganti, yang letak poolnya tidak jauh dari kampus saya. Kisah dimulai dari cipaganti, jadwal keberangkatan pesawat saya pukul 10 malam, tetapi armada yang mengangkut saya hanya ada pukul 12.00 itu artinya saya harus menunggu sekitar 9 jam di bandara. Tapi tak apalah ketimbang terlambat pikir saya, kebetulan ini juga pertama kali saya menggunakan cipaganti. Selama perjalanan dari bandung ke jakarta pikiran saya hanya tertuju di jalan tol yang kami lewati, " kalau di papua sudah ada jalan tol seperti ini, sudah sejak lama kami lepas dari NKRI.. ". Tapi saya tidak terlalu menikmati perjalanan itu, bawaan orang udik selama perjalanan perut saya terasa mual minta ampun, pengen muntah rasanya. Tidak akan lagi saya naik mobil ini, ditambah fragrance yang disemprot si supir ke mobil terlampau banyak sehingga menambah pening kepala saya. Udik, udik.. .
Sesampainya di bandara soeta dengan sambil meraba-raba bokong saya, yang berasa tidak ada akibat keram bokong berkepanjangan. Saya mampir sebentar di sebuah minimarket untuk membeli tisu, karena sungguh sore itu di bandara soeta terasa sangat panas.
(" saya skip ceritanya sampai waktu keberangkatan, berhubung selama 9 jam saya hanya menghabiskan waktu saya dengan berjalan mondar mandir di terminal 1A, twitteran dan mengunjungi WCnya yang baunya sangat tidak berperikemanusiaan..")
Waktu menunjukkan pukul 21. 45, saya segera menujua pintu A3 untuk boarding. Malam itu hampir 70% ruang tunggu A3 isinya orang saya semua (kulit hitam, rambut keriting). Sedikit merindukan mereka, karena selama di bandung saya hanya sesekali melihat mereka ketika di jalan ataupun di e*****y(cerita lama). Pukul 20. 20 kami masuk ke pesawat saya mendapatkan seat 15F, disamping saya ada seorang dan anak balitanya. Tapi tak lama seorang pramugari yang cantik menyuruh sang ibu pindah ke kursi di belakang, karena katanya masker oksigen hanya ada di seat yang genap . Emang kita mau keluar dari atmosfer, atau pesawat akan menukik dengan tiba-tiba sehingga menciptakan ruang hampa udara, begitu pikir saya. Sebagai gantinya, seorang laki-laki berusia 20an.
Pesawat pun beranjak dari Soeta, dan akan terbang diatas ketinggian 39.000 kdpl begitu kata suara yang bergema di kabin. Kira-kira setengah jam ketika keluar dari teluk jakarta, pesawat berguncang dengan cukup keras. Saya yang setengah terlelap, sontak terbangun dan mulut saya dengan seketika komat kamit, dengan semua doa yang saya tahu. Pikiran saya langsung terbayang pesawat sukhoi yang jatuh beberapa saat lalu. Untungnya tak berapa lama, pesawat kembali terbang dengan stabil, saya pun sedikit tenang dan melanjutkan tidur saya. Baru sekejap saya memejamkan mata, anak balita tepat di belakang dan depan saya menangis dengan sejadi jadinya. Oh God..
Saya tidak kesal, saya takut gelombang bunyi tangisan si balita akan mempengaruhi gelombang elektromagnetik pesawat yang berhubungan dengan bandara. Dan ternyata benar, Pilot mengumumkan bahwa telah terjadi kerusakan di alat navigasi pesawat, jadi pesawat akan transit di bandara Hassanudin makassar. Tunggu sebentar, kalau alat navigasi bermasalah, bagaimana si pilot akan tahu arah menuju makassar? peta, lihat bintang, apa memakai nsting. Benar-benar aneh penerbangan malam itu. Keanehan belum berhenti, penerbangan masih sekitar 20 menit menuju makassar ketika seorang Ibu tiba-tiba pingsan di kursinya, seatnya berjarak 1 kali di depan saya. Penumpang yang disampingnya berusaha memanggil awak kabin dengan memencet tombol dengan simbol wanita diatasnya, tapi pilot sudah menyalakan lampu menggunkan sabuk pengaman yang artinya pesawat akan segera mendarat.
Sesudah mendarat, dengan segera saya beranjak untuk melihat si ibu yang pingsan itu. Kehebohan pun sedikit terjadi ketika pilot memberitahu kami untuk menunggu di dalam pesawat, sedangkan ada seorang wanita pingsan. Pramugari yang cantik pun hanya kebingungan akibat dimarahi penumpang.
Beruntung malam itu, diantara penumpang ada seorang dokter yang segera melakukan CPR bagi si ibu. Faktor kelelahan kata Pak Dokter.
Akhirnya kami diperbolehkan turun menuju ruang tunggu di bandara Hassanudin, dan sekita pukul 4.00 waktu makassar kami melanjutkan perjalanan ke Jayapura.
Meskipun ada sedikit goncangan kecil saat penerbangan menuju Jayapura, beruntung kami akhirnya sampai dengan selamat di Bandara Sentani Jayapura.
Tepat diatas Danau Sentani, matahari pagi bersinar cerah...
Kenambai Umbai..