Tweet Me!

1.5.12

Jari Part I


Musim kuliah dimulai, semua terasa berat ketika kembali harus masuk ke kelas. Kursi lipat dengan meja kecil yang penuh dengan coretan pena mahasiswa yang bosan mendengar pelajaran dosen. Bau makanan kembali tercium ketika kotak makanan yang dibawa mahasiswa untuk dijajakan di dalam kelas.

Datang dengan sedikit terengah-engah Irawan masuk ke kelas kalkulus siang itu, dengan tampang yang boleh dibilang lumayan untuk seorang pemuda di umurnya, terlebih lagi memiliki bakat lebih dibilang musik. Kacamata dengan tangkai yang agak kekecilan sering membuat kacamata itu hampir terjatuh ketika dia sedang menunduk.
“ Maaf bu saya terlambat “, sanggah irawan. Hanya dengan anggukan kepala Bu Anit menyuruh irawan untuk segera masuk.
Pelajaran kalkulus di waktu siang membuat beberapa mahasiswa menahan kantuknya setengah mati, bahkan ada yang sampai tertidur. Tapi di balik barisan mahasiwa tersebut, terbesit lirikan seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan Irawan  masuk ke kelas.
Rucita memilki paras yang tidak terlalu menarik untuk dipandang, dengan poni menyamping dan kacamata yang cukup tebal, membuatnya tidak menjadi idola di kelas tersebut.
Irawan pun menoleh ke arah rucita yang lirikannya cukup mengganggu, dengan jarak sekitar 5 meter dari bangkunya, rucita pun langsung dengan gugupnya mengalihkan pandangan ke arah papan

Hari ini terasa semakin membosankan bagi Irawan ketika di shift akhir nanti masih ada mata kuliah teknik presentasi,kelas Pak Rizal. Diusia yang menjelang enam puluh, dengan keriput di kulit dan rambut yang hampir seluruhnya beruban, membuat siapapun yang masuk ke kelas pak rizal merasa malas untuk memperhatikan.
Untuk kesekian kali, Rucita tetap menahan lirikan matanya ke irawan, mengambil mata kuliah yang semuanya sama, membuat irawan sedikit menjaga jarak. Apalagi lirikan mata Rucita semakin tajam semenjak masuk kuliah dimana hampir dua bulan mereka tidak bertemu.

Ketika Pak Rizal sedang  memperagakan cara berkomunikasi yang baik dengan menatap lawan bicara, Rucita yang duduk tetap dibelakang Irawan menepuk pundaknya.
“wan kamu mahir main piano kan? “, mengagetkan Irawan dari lamunannya tentang Mahardiani, mahasiswi Teknik Industri yang sejak semester satu diincarnya. Tubuh aduhai yang dimiliki Mahardiani terlebih ketika dia berjalan, membuat setiap mata lelaki yang melihatnya enggan untuk berkedip. Apalagi sering dengan sengaja Mahardiani menoleh dengan nakal ke lelaki yang memperhatikannya. Tahu bahwa dia menjadi pusat perhatian.
“iya kenapa cit? “, jawab Irawan dengan acuh tak acuh. “ Mau ga kamu ajarin aku” tanya Rucita kembali. Membuat irawan semakin risih.
“ Iya nanti ya cit, kebetulan aku sibuk” sembari beberapa menit kemudian meminta ijin ke kamar mandi.
Usaha Rucita untuk semakin dekat dengan Irawan, dengan pujaan hatinya sedikit terhambat.
Sering dia membayangkan sedang bernyanyi dan Irawan memandunya dengan pijitan tuts piano yang lembut...