Musim kuliah dimulai, semua terasa berat ketika kembali
harus masuk ke kelas. Kursi lipat dengan meja kecil yang penuh dengan coretan
pena mahasiswa yang bosan mendengar pelajaran dosen. Bau makanan kembali
tercium ketika kotak makanan yang dibawa mahasiswa untuk dijajakan di dalam
kelas.
Datang dengan sedikit terengah-engah Irawan masuk ke kelas kalkulus
siang itu, dengan tampang yang boleh dibilang lumayan untuk seorang pemuda di
umurnya, terlebih lagi memiliki bakat lebih dibilang musik. Kacamata dengan
tangkai yang agak kekecilan sering membuat kacamata itu hampir terjatuh ketika
dia sedang menunduk.
“ Maaf bu saya terlambat “, sanggah irawan. Hanya dengan anggukan kepala Bu Anit menyuruh irawan untuk segera masuk.
Pelajaran kalkulus di waktu siang membuat beberapa mahasiswa menahan kantuknya setengah mati, bahkan ada yang sampai tertidur. Tapi di balik barisan mahasiwa tersebut, terbesit lirikan seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan Irawan masuk ke kelas.
“ Maaf bu saya terlambat “, sanggah irawan. Hanya dengan anggukan kepala Bu Anit menyuruh irawan untuk segera masuk.
Pelajaran kalkulus di waktu siang membuat beberapa mahasiswa menahan kantuknya setengah mati, bahkan ada yang sampai tertidur. Tapi di balik barisan mahasiwa tersebut, terbesit lirikan seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan Irawan masuk ke kelas.
Rucita memilki paras yang tidak terlalu menarik untuk
dipandang, dengan poni menyamping dan kacamata yang cukup tebal, membuatnya
tidak menjadi idola di kelas tersebut.
Irawan pun menoleh ke arah rucita yang lirikannya cukup mengganggu, dengan jarak sekitar 5 meter dari bangkunya, rucita pun langsung dengan gugupnya mengalihkan pandangan ke arah papan
Irawan pun menoleh ke arah rucita yang lirikannya cukup mengganggu, dengan jarak sekitar 5 meter dari bangkunya, rucita pun langsung dengan gugupnya mengalihkan pandangan ke arah papan
Hari ini terasa semakin membosankan bagi Irawan ketika di
shift akhir nanti masih ada mata kuliah teknik presentasi,kelas Pak Rizal.
Diusia yang menjelang enam puluh, dengan keriput di kulit dan rambut yang
hampir seluruhnya beruban, membuat siapapun yang masuk ke kelas pak rizal
merasa malas untuk memperhatikan.
Untuk kesekian kali, Rucita tetap menahan lirikan matanya ke
irawan, mengambil mata kuliah yang semuanya sama, membuat irawan sedikit
menjaga jarak. Apalagi lirikan mata Rucita semakin tajam semenjak masuk kuliah
dimana hampir dua bulan mereka tidak bertemu.
Ketika Pak Rizal sedang memperagakan cara
berkomunikasi yang baik dengan menatap lawan bicara, Rucita yang duduk tetap
dibelakang Irawan menepuk pundaknya.
“wan kamu mahir main piano kan? “, mengagetkan Irawan dari lamunannya tentang Mahardiani, mahasiswi Teknik Industri yang sejak semester satu diincarnya. Tubuh aduhai yang dimiliki Mahardiani terlebih ketika dia berjalan, membuat setiap mata lelaki yang melihatnya enggan untuk berkedip. Apalagi sering dengan sengaja Mahardiani menoleh dengan nakal ke lelaki yang memperhatikannya. Tahu bahwa dia menjadi pusat perhatian.
“iya kenapa cit? “, jawab Irawan dengan acuh tak acuh.
“ Mau ga kamu ajarin aku” tanya Rucita kembali. Membuat irawan semakin risih.“wan kamu mahir main piano kan? “, mengagetkan Irawan dari lamunannya tentang Mahardiani, mahasiswi Teknik Industri yang sejak semester satu diincarnya. Tubuh aduhai yang dimiliki Mahardiani terlebih ketika dia berjalan, membuat setiap mata lelaki yang melihatnya enggan untuk berkedip. Apalagi sering dengan sengaja Mahardiani menoleh dengan nakal ke lelaki yang memperhatikannya. Tahu bahwa dia menjadi pusat perhatian.
“ Iya nanti ya cit, kebetulan aku sibuk” sembari beberapa menit kemudian meminta ijin ke kamar mandi.
Usaha Rucita untuk semakin dekat dengan Irawan, dengan pujaan hatinya sedikit terhambat.
Sering dia membayangkan sedang bernyanyi dan Irawan memandunya dengan pijitan tuts piano yang lembut...