Tweet Me!

1.5.12

Jari Part II


Kembali Rucita menyergah Irawan ketika kelas sudah usai “ Gimana wan, mau ya ajarin aku ?”.
Dengan cepat menyambar di depan muka Irawan. “ iya, aku usahain ya, lagipula nanti mau latihan dimana? “ tanya Irawan sedikit merendahkan.  “Kan di gedung serbaguna ada, kita pinjam aja kan bisa”, jawab rucita dengan semangatnya. “ Tapi... aku ga mau urusan pinjam-pinjam gitu. Ribet” jawabnya enggan. “ Tenang aja, nanti aku yang urus” Rucita memantapkan dirinya untuk benar-benar serius mendapatkan pria yang pertama dia lirik, ketika masa OSPEK dulu.
“Terserah deh, nanti kabarin aku aja, kalau udah siap buat latihan. Tapi jangan mendadak yah.. “ jawab Irawan sambil berlalu. “ Oke”. Dengan senangnya dia tetap berdiri, memperhatikan punggung Irawan Dwi Purnomo yang samar-samar menghilang.
Minggu ini terasa berat, bagi mahasiswa semester 4, karena sedang banyaknya tubes yang harus dibuat dan dipresentasikan. Rucita pun semakin sering menghabiskan waktunya di perpustakaan. Waktu menunjukkan pukul 6 ketika rucita harus kembali ke kos, kemudian dia melangkah menuju rak yang agak diujung perpustakaan. Kampus IT Telkom memiliki perpustakaan yang cukup besar, jika mengingat kampus ini baru saja berdiri. Dengan koleksi buku yang cukup lengkap, fasilitas yang diberikanpun sesuai, di beberapa sisi dipasang cctv, namun tidak menjangkau sudut-sudut perpustakan yang menjadi tempat favorit mahasiswa.
Dengan terburu-buru, Rucita hendak menaruh buku Rangkaian Listik ke raknya. Ketika dia melihat di sudut sana, terdapat dua orang yang dikenalnya. Si pria dengan rambut klimis dengan poni yang disisir ke samping kanan dan tentu saja kacamata hitam dengan bingkai kecilnya. Sedangkan seorang lagi perempuan dengan rambut panjang terurai dan dengan behel di giginya. Irawan dan Mahardiani. Apa yang dilakukan merasa disini, tanya rucita dalam hati. Mahardiani dikenal bukan seorang kutu buku melainkan sosialita kampus, sedangkan irawan sangat jarang di ke perpustakaan, sekalinya hanya untuk sekedar mengganti kupon peminjaman yang sewaktu-waktu mungkin dapat dia gunakan.
Dengan diam rucita mengintip dari sela-sela rak buku itu, Itu mereka.  Jelas sekali. Tapi kemudian kepala mereka saling mendekat, Mahardiani perlahan menutup mata, dan Irawan merangkulkan tangan kanannya ke punggung Mahardiani, sedangkan tangan kirinya berusaha mendorong kepala Mahardiani agar dekat dengan kepalanya. Rucita hanya diam, kemudian dengan pikiran yang kosong menyaksikan apa yang barusan terjadi, dia berjalan pelan ke arah meja tempat dia mengerjakan tubes tadi. Menutup laptop dan mengisinya kedalam tas, kemudian keluar dari perpustakaan.

Selang keesokan harinya,blackberry Irawan berbunyi menandakan ada pesan di inboxnya. Dia termasuk orang yang jarang menggunakan sms, karena pulsanya hanya digunakan untuk membeli paket blackberry. Jadi ketika ada sms yang muncul di inboxnya, dia sedikit keheranan.
“ Wan aku udah minta ijin ke OBnya, dia bilang bisa dipake pianonya, tapi diatas jam 7 malam. Oh iya pianonya udah dipindah ke Gedung K. Bisa ga kita latihan ntar malam? “ sms dari Rucita rupanya. Irawan sedikit enggan membalasnya, namun karena teringat Rucita pernah membantunya mengerjakan salah satu tubes. Irawan pun mengiyakan “ Okdeh, Ntar aku datang cit” mengakhiri  dengan menekan tombol hijau di bbnya.

Irawan masuk ke gedung K dengan perlahan memperhatikan tiap sudut gedung tersebut. Dengan kursi berjejer membentuk sebuah lingkaran, dan posisinya yang bertingkat tiap barisan kursinya. Seakan ketika berada tepat di tengah, kita dapat merasakan seluruh ruangan memperhatikan. Irawan beranjak ke arah piano, yang berada tepat disudut panggung yang biasa dipakai dosen untuk kuliah umum. Tidak ada siapa-siapa.
Dengan kesalnya dia membuka penutup piano klasik tersebut, berpikiran bahwa Rucita pasti telat. Irawan kemudian duduk di kursi panjang piano tersebut yang menghadap ke dinding . Ketika tepat dia menekan tuts C, sebuah hantaman keras tepat di batok kepalanya. Pandangannya kabur, dan seberkas cahaya terang menyinari bola matanya, kemudian kosong tidak ada apa-apa.

Rucita dengan anggunnya duduk di kursi panjangtersebut, dan membaringkan kepala Irawan di pundaknya. Darah menetes di sekujur kemeja flanelnya namun dibiarkannya. Rucita mengangkat jari-jari Irawan dan diarahkan ke tuts-tuts piano tersebut. Memimpikan jari-jari dari tangan yang sudah kaku dan dingin tersebut menggengam tangannya.