(untuk Yudho)- 30 april 2012
Seperti layang-layang aku lepas anak lelaki ku menuju sebuah perjalanan baru dalam hidupnya, perjalanan menuju dewasa. Subuh itu jarum jam baru saja menujukan pukul lima lebih sepuluh menit. Yudho … itulah panggilan kami untuk jagoan kami, harus memasuki masa orientasi sekolah lanjutan atas, kalau sebelumnya ketika memasuki sekolah baru aku harus mengantarnya sampai digerbang sekolah, kali ini dia sendiri yang mengatakan “mama … besok biar aku sendiri, orientasi siswa gak ada yang diantar… lagian malu kalau diantar ma…”. Oke aku paham sangat paham, tapi berat hati ini melepasnya untuk melepasnya, memasuki babak baru diusia baru dan perjalanan baru kehidupannya. Dalam remang cahaya matahari pagi terus kutatap dengan tubuh kurus tinggi jagoanku, dengan kaos putih dan celana pendek biru, dilengkapi tas karung goni, topi dan papan nama besar yang diikat tapi rafia didadanya, melesat seperti anak panah, hilang dari pandanganku. Ya Allah lindungi anakku.
Setelah tiga tahun berlalu perpisahan harus terulang, kali ini akan kutinggalkan jagoanku dalam hiruk pikuk kota besar yang menjadi pilihannya menuntut ilmu di kota ini.
Pagi ini aku bereskan kamarnya, melipat helai demi helai baju sambil kucium lamat-lamat bau khas lelaki yang memasuki masa lantaran Yudho harus segera berkemas lebih awal mengikuti orientasi mahasiswa, kalau boleh memilih, biarlah dia tetap dalam pelukanku, dalam buaianku, setiap pagi menyiapkan segelas susu, tapi tugasku hanyalah membawanya menggapai cita-cita. Tak terasa airmataku menetes membayangkan jagoanku akan berjuang sendiri, bergulat dengan kesibukan meraih impiannya. Tiba-tiba kulihat yudho telah berdiri disisiku dengan kemeja putih, celana hitam, “ma .. kenapa?” suaranya membuyarkan lamunanku , “ ah… tidak nak.., mama agak pusing sedikit, makanya mata berair sejak tadi” kataku berbohong. “tapi mama gak apa-apa kan, soalnya besok kan mama harus balik ke Papua” katanya sambil terus memandangku, “paling tidur dikit .. sebentar juga pusing mama hilang” ucapku agar tak membuatnya khawatir. “ Ok ma… aku jalan dulu… jangan sampe telat, bisa dihukum senior nih… “ katanya sambil mencium tanganku. Kembali anak panah meninggalkan busurnya, menuju arah mata angin kehendaknya. Walau berat aku tahu tugasku melesatkan anak panah yang terbaik, menancapkan pada titik yang tepat. Semoga berhasil nak…..