Tweet Me!

10.5.12

Lonely Day

"Kebakaran hebat terjadi di perumahan padat penduduk Baleendah, lebih dari 100 orang meninggal dunia yang kebanyakan adalah anak-anak. Kebakaran terjadi tengah malam, sekitar pukul 02.00. Seluruh rumah hangus dan rata dengan tanah dengans sekejap, pemadam kebakaran yang datang dengan 7 truk pun tak bisa berbuat apa-apa.... " AKBP Suharno melipat kembali korannya, dan kemudian termenung memikirkan banyak kejadian aneh belakangan ini. Segera dia memanggil bawahannya Bripda Eri, yang dia tugasi menyelidiki penyebab kebakaran di Baleendah. " Jadi bagaimana perkembangannya ?" tanya Suharno, " Saya belum bisa menyimpulkan apa-apa pak, dari hasil forensik kebakaran tidak berasal dari satu rumah, tetapi semua. Secara akal sehat kalaupun penyebabnya adalah arus pendek tidak mungkin semua rumah mengalami arus pendek secara bersamaan " jawab Eri dengan ragu. " Jadi menurutmu, ini sudah direncanakan? Perbuatan orang, begitu?", tanya Suharno kembali. " Saya berpikiran seperti itu pak, ini pasti kerjaan Yoyo"
  .


Sementara itu Walikota Yoyo sedang menikmati sarapan dengan istrinya sebelum berangkat ke kantor, sebuah hidangan serabi dan teh hangat. " Ini Pak Kopinya " ucap asep sambil memberikan kpi khusus untuk sang walikota. "3 sendok kopi, 1 sendok gula, air panasnya 3/4 " lanjut asep. " Hmm, makasih " balas Yoyo dengan acuh tak acuh, asep pun berlalu dan kembali ke dapur.
" Apa,  hasil survey mengatakan aku kalah dari Dada? Survey apaan ini. Tidak bisa percaya, aku yang bangun jalan-jalan itu, dan ini balasannya ?" Yoyo tampak marah pagi itu. Karena itu artinya pada pemilihan kepala daerah tahun depan, kemungkinan dia akan kalah dari Dada Rosada. Wakilnya saat ini. " Itukan cuma survey, toh rakyat tahu siapa Bapak" istrinya coba menenangkan. Yoyo menegak kopinya, kemudian beranjak dari meja makan " Aku pergi, Assalamualaikum ". Yoyo pun beranjak ke luar menuju mobil sedan Toyota Crown berplat hitam miliknya, dan kang supri sudah menunggu di dalam mobil. Namun ketika baru membuka pintu mobil, Yoyo merasakan tekanan berat di dadanya, pandangannya tiba-tiba kabur. Dia tetap berpegangan di pintu mobil. Kang supri yang sedang berbalik, melihat dari dalam mobil, sang walikota seperti kesakitan. Dengan segera dia keluar dari mobil, dan meraih Yoyo yang terjatuh. " Tolong, bapak pingsan...!! " Teriak kang supri.



Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin melantik kepala sipir baru Pak Djoko Irwanto yang sebelumnya bertugas di LP Kedungpane Semarang. " Ini bukan penjara, ini adalah rumah baru saya. Ini adalah keluarga baru saya" kata Djoko dalam sambutannya.
Hari - hari berjalan biasa, ketika kemudian LP Sukamiskin diangkat statusnya menjadi Lapas kelas IA setara dengan Lapas Nusakambangan, yang artinya beberapa napi yang dianggap berbahaya akan ditempatkan disana. Beberapa gembong narkoba yang berada di Nusakambangan juga akan dipindahkan. Mengingat kondisi Lapas sukamiskin yang sudah berbenah dimana semua pintu sel tidak lagi menggunakan kunci tetapi dikontrol otomatis dari ruang sipir. Selain itu penambahan kamera cctv di beberapa tempat membuat Lapas sukamiskin dianggap Lapas bertaraf internasional.
" Ini tugas berat bagi kita, rumah ini akan dipenuhi oleh orang- orang yang tidak diinginkan di masyarakat. Dan saya minta bantuan kalian semua " ucap Djoko memimpin rapat tertutup di lapas sukamiskin.

Tengah malam itu, Syahroni yang bertugas menjaga malam berkeliling di lantai II. Lantai II merupakan tempat bagi para ketua preman, gembong narkoba dan para penjahat. Bahkan di ruang 217, Abu Muhab salah satu terduga teroris ditempatkan disana. " Ada yang aneh malam ini" tanya Syahroni dalam hati. Dimana para Densus 88 yang biasa berjaga di depan ruang Abu Muhab. Dia pun sedikit berjalan cepat, dan tiba -tiba sirine di setiap sudut di dalam lapas berbunyi, Syahroni kaget dan kemudian berlari turun ke lantai satu. Belum sempat dia menginjak tangga untuk turun, terdengar bunyi sel yang terbuka. Serempak di seluruh tangga. Mata dia terbelalak, " Ya Allah, ada apa ini ? " . Suharno terpaku lemas, tepat di ruang 202. John Key, gembong mafia terkenal melihat syahroni dari dalam ruangannya. Syahroni semakin gugup dan segera berlari menuju ke ruangan kepala sipir, dengan segera dia membuka pintu ruangan kepala sipir. " Pak, pintu selnya... ", belum sempat syahroni melanjutkan kata-katanya, Djoko Irwanto menyergahnya " Tenang de, ga ada apa- apa " ucap Djoko sambil tersenyum.




Eri berjalan pelan diatas karpet merah itu menuju sebuah ruangan, ruangan oval. Dengan santai dia membuka pintu bertuliskan " RUANG PRESIDEN ".
" Aku hanya bosan, aku hanya mencari lawan. Mencari partner. ", kata Eri sambil tersenyum, kepada mantan Jenderal itu. " Lihatlah bagaimana aku mengendalikannya " lanjutnya.
"Tapi kenapa? kau adalah pengayom masyarakat. Kau harusnya melindungi mereka?" ucap mantan jenderal dengan marah.

Eri menodongkan pistol bristish army browning L9A1 kesayangangannya tepat di dahi sang mantan jenderal,
" Bagaimana kalau aku berada di sisi yang terang,...... dan sisi yang gelap ? "