Tweet Me!

7.5.12

Kemesraan

Di suatu pagi yang sibuk di Manhattan, Ben Ingram seorang kulit putih keturunan Irlandia berkenalan dengan Diane Philips ketika mereka tidak sengaja  berpapasan di pintu subway . "Apakah ini langsung ke Grand Central ?" tanya Diane. " Ya, kira-kira perjalanan sekitar 1,5 jam" jawab Ben dengan sedikit menoleh ke arah Diane. Untuk hari ini tampaknya akan terasa berbeda bagi Ben, di pagi lainnya jarang ada orang yang menegurnya, kehidupan di New York yang begitu cepat membuat kehidupan sosial para penduduknya sedikit terabaikan. Ben kembali menoleh ke arah Diane, yang sedang membaca buku. Rambut pirang emas itu sangat menarik baginya. " The Thorn Birds, huh? ", sergah Ben. " eh ya, kau juga membacanya?" Diane berpaling ke arah pria Irlandia ini. " Ya, cukup menarik. Tapi aku tidak terlalu menyukai cerita roman picisan seperti itu. Hanya untuk sedikit hiburan. Karena aku adalah penggemar buku fiksi ilmiah", kata Ben. " Berarti kau bukan pria sensitif ya?" canda Diane sembari tersenyum ke arah Ben. "Hangat..??" dalam hati Ben bertanya, " Sangat hangat senyum itu". Dengan cepat Ben mengulurkan tangan " Benjamin Ingram, tapi kau bisa memanggilku Ben". Diane yang sedikit kaget juga menjulurkan tangannya " Diane Philips". Singkat padat, disertai rangkulan tangan halusnya. Ben enggan melepaskan uluran tangan itu, ketika Diane sedikit memaksa menariknya.
Pagi itu brooklyn kembali berwarna, dengan kereta yang sedikit demi sedikit meninggalkan Utica AV.

Perkenalan itu membawa hubungan mereka semakin dalam. Sepulang kencan ketiga mereka, Diane mengajak Ben untuk mengunjunginya apartemennya. Tidak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk menghabiskan malam itu. Tanpa basa-basi Ben langsung mencumbu Diane. Diane pun melepaskan kancing-kancing baju Ben. Mereka bercumbu dengan mesra, sampai malam menyaksikan kemesraan mereka berdua yang kini berpindah ke tempat tidur Diane. Kehidupan Ben terasa lengkap. Ketika dia bangun pagi dan menyadari ada sesosok bidadari yang merebahkan kepala di bahunya.

Setelah keduanya merasa serius, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah di sebuah Sinagog kecil di Kane Street. Ben berketurunan Yahudi dari ibunya, sedangkan silsilah keluarga Diane adalah para imigran Yahudi yang semenjak dulu menetap di Brooklyn.

Perkawinan mereka sangat bahagia. Dan kebahagiaan semakin bertambah kala Julian hadir di tengah-tengah mereka. Julian tumbuh menjadi anak lelaki yang tampan, mewarisi rambut pirang ibunya dan mata biru ayahnya.
Kedua orangtuanya sangat mencintai Julian, terlebih Ibunya. Julian tak sedikitpun lepas dari pengawasan ibunya. Hal ini yang kadang menjadi biang kecumburuan yang sang Ayah.
Karena ingin juga diperhatikan, Ben sengaja mengirimkan Julian ke sekolah musim panas, agar bisa menghabiskan waktu dengan Diane. Namun tak disangka, Julian mengalami kecelakaan cukup parah ketika melakukan hiking.
Diane yang tidak terima kemudian menyalahkan Ben atas kejadian ini. " Kau Ayah yang tidak bertanggung jawab, teganya kau berbuat begitu terhadap anakku". ucap Diane dengan marah. Ben hanya terdiam menunggui bocah lelakinya agar segera siuman.


Hari-hari kembali seperti biasanya, dan Julian telah sembuh dari kecelakaan itu. Ketika makan malam Ben menyarankan agar Julian dimasukkan ke Sekolah Militer "Aku tahu sekolah militer yang bagus di Pasadena, Julian akan betah disana" ungkap Ben. Namun Diane dengan marah menolaknya, karena dia ingin Julian selalu dirumah. Ben bersikeras " Anak lelaki harus masuk sekolah militer, agar mereka menjadi seorang yang kuat. Seperti yang ayah lakukan padaku " Ben sedikit membentak. Diane pun tak mau mengalah " Julian bukan kau, dia adalah anakku!."
Sementara Julian hanya diam sambil memakan spageti buatan ibunya. Perdebatan itu berlangsung tiap hari, semua hanya tentang Julian, anak semata wayang mereka. Julian pun semakin tidak betah dirumah, di sekolah pun dia menjadi anak yang tertutup. Semua karena perilaku Diane yang mengontrol semua tindakan Julian.

Pagi itu Diane ingin membangunkan Julian, namun Julian tak ada di tempat tidurnya. Jendela kamarnya terbuka, dengan berlembar kain selimut terikat dan menjulur ke luar jendela. Diane melangkah pelan. sembari terus menatap ke luar jendela. Ketika dia melihat ke arah bawah, dia melihat tubuh julian tergantung tepat di lehernya. Diane pun terdiam, kemudian berjalan menuruni tangga. Ben yang sedang asyik dengan serealnya, menyergah Diane yang berjalan ke arah dapur " Dimana Julian ? , kau sudah membangunkannya ?" Diane hanya terdiam, dia kemudian membuka sebuah rak dan mengambil sebilah pisau. Dia berjalan pelan dari arah belakang Ben, dengan cepat dia menusukkan pisau itu tepat di punggung Ben, berkali-kali hingga Ben terjatuh dari kursinya. Tak puas, dia menusuk ke arah dada Ben, darah pun bermuncratan di wajahnya.
Diane pun menangis, sambil terkelungkup kemudian pingsan.

Sore itu di Rumah Sakit Jiwa New Jersey, Suster Anne yang mendapat giliran menjaga mendengar bunyi benturan berkali-kali di dinding. Seperti orang sedang memukul sesuatu. Suster Anne berlari ke arah kamar 207 tempat asal bunyi itu.
Suster Anne tiba-tiba tersungkur ketika melihat dari luar sel, darah dan cairan otak yang mengalir di diantara sela-sela rambut pirang emas. Dan sebuah buku catatan kecil tergeletak tepat di samping tubuh yang sudah tak bernyawa itu.



Tidak ada satupun dari mereka yang mengerti besar cintaku pada kalian.. 
Mereka menganggap cinta itu persetubuhan, ciuman, pelukan erat..
Mereka tidak tahu bahwa aku sangat mencintai kalian hingga aku lupa mencintai diriku sendiri..


Tenanglah kalian disana, aku akan datang membawa bunga..
Yang terhangat

Diane